Wednesday, January 21, 2026

Meluruskan Narasi Sejarah: Tugas Moral Guru PAI

 
local poto 2025 by. ilustrasi

“Sejarah yang kita hafal… belum tentu sejarah yang jujur.”

Ketika seorang ‘pahlawan’ dielu-elukan, siapa yang menangisi para korban yang dilenyapkan dari buku pelajaran?

Narasi sejarah tidak pernah benar-benar netral. Ia sering ditulis oleh pihak yang menang, lalu diwariskan sebagai “kebenaran umum”. Vasco da Gama, misalnya, kerap dipoles sebagai pahlawan eksplorasi Eropa—ikon kejayaan bangsa Portugis. Namun, ketika fakta-fakta pelayaran keduanya (1502–1503) dihadirkan secara jujur, kita dihadapkan pada wajah lain dari sejarah: kekerasan terhadap peziarah Muslim, perampokan, pembakaran kapal, dan pembunuhan massal terhadap sekitar 400 jiwa yang tak berdaya. Di titik inilah, tugas guru PAI bukan sekadar mengajar agama, tetapi juga menanamkan kesadaran kritis terhadap sejarah.

Bagi umat Islam, khususnya pendidik PAI, peristiwa ini bukan untuk menumbuhkan kebencian, melainkan membangun kewaspadaan intelektual. Kolonialisme tidak datang hanya dengan senjata, tetapi juga dengan narasi—narasi yang mengagungkan pelaku dan membungkam korban. Ketika kekerasan dilakukan “atas nama iman” dan kemudian ditutup dengan label kepahlawanan, di situlah terjadi ketidakadilan sejarah. Guru PAI perlu membantu peserta didik memahami bahwa Islam adalah korban dari ekspansi yang dibungkus misi dagang dan agama, sekaligus menegaskan bahwa Islam sendiri tidak mengajarkan pembalasan buta, tetapi keadilan dan kemanusiaan.

Di ruang kelas, guru PAI memiliki posisi strategis untuk mengajarkan tauhid yang membebaskan: membebaskan dari sikap inferior, dari penerimaan mentah narasi Barat, dan dari glorifikasi kekerasan. Sejarah Vasco da Gama dapat dijadikan studi kritis untuk menanamkan nilai keadilan (al-‘adl), kemanusiaan (al-insaniyyah), dan kejujuran ilmiah. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya menjadi saleh secara ritual, tetapi juga cerdas secara sejarah, mampu memilah antara eksplorasi dan agresi, antara dakwah dan dominasi.

Akhirnya, memperkuat pemahaman umat Islam bukan berarti menghidupkan dendam masa lalu, melainkan menegakkan kebenaran sejarah agar generasi hari ini tidak mudah terpesona oleh mitos kepahlawanan yang dibangun di atas darah, api, dan kebencian. Di sinilah peran guru PAI: menjadi penjaga nurani, pengajar iman yang berpihak pada kemanusiaan, dan pendidik yang berani meluruskan sejarah dengan akal sehat dan akhlak mulia.

red. Alfaqir


referensi : https://ihram.republika.co.id/berita/rw8lmv366/saking-bencinya-vasco-de-gama-bakar-kapal-jamaah-haji-di-india-beserta-penumpangnya