Thursday, October 29, 2026

Membumikan Al-Qur’an, Mencerahkan Generasi.

local poto 2026 by. doc


PENA GPAI | REPORTASE BERITA ONLINE

TAGLINE
Dari Bimtek Menuju Aksi, Membumikan Al-Qur’an, Mencerahkan Generasi.

TBQ-Ku Istimewa Tuntas Digelar, Kemenag Purwakarta Ajak GPAI Jadi Guru yang Dirindukan

TEASER
Penutupan rangkaian Bimbingan Teknis (Bimtek) TBQ-Ku Istimewa Zona 1, Zona 2, dan Zona 3 menjadi momentum penting bagi Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) untuk melangkah dari ruang pelatihan menuju aksi nyata. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purwakarta menegaskan pentingnya meluruskan niat, mengamalkan ilmu, berinovasi, dan berkolaborasi demi membumikan Al-Qur’an serta mencerahkan generasi penerus bangsa.

PURWAKARTA, PENA GPAI — Rangkaian kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) TBQ-Ku Istimewa resmi ditutup di Tajug Gede, Purwakarta, pada 29 Oktober 2026. Penutupan ini menandai berakhirnya rangkaian pelatihan di Zona 1, Zona 2, dan Zona 3, sekaligus menjadi titik awal bagi para peserta untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dalam pembelajaran Al-Qur’an di lingkungan sekolah.

Kegiatan yang diselenggarakan sebagai bagian dari upaya membumikan Al-Qur’an tersebut menjadi ruang penguatan kompetensi, penyamaan persepsi, dan peneguhan komitmen GPAI dalam menghadirkan pembelajaran Al-Qur’an yang lebih bermakna bagi peserta didik.

GPAI Adalah Manusia Pilihan, Amanahnya Lebih dari Sekadar Profesi

Dalam sambutan penutupan, Dr. H. Ohan Burhan, S.Pd.I., M.Pd., Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purwakarta, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan Bimtek TBQ-Ku Istimewa dari awal hingga akhir.

Beliau mengingatkan bahwa kesempatan mengikuti pelatihan merupakan amanah yang patut disyukuri.

“Bapak dan Ibu merupakan manusia pilihan yang bisa hadir mengikuti Bimtek ini dalam rangka membumikan Al-Qur’an,” demikian pesan yang disampaikannya kepada para peserta.

Atas nama Kementerian Agama Kabupaten Purwakarta, beliau menyampaikan terima kasih atas ketulusan, dedikasi, dan kolaborasi seluruh pihak sehingga rangkaian kegiatan dapat terlaksana dengan baik.

Lebih dari sekadar seremoni penutupan, sambutan tersebut menjadi pengingat bahwa tugas GPAI bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran, melainkan juga menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an melalui keteladanan dan praktik kehidupan sehari-hari.

Lima Pesan Penting untuk Para Guru Pendidikan Agama Islam

Dalam arahannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purwakarta menegaskan lima pesan penting yang patut menjadi pegangan para peserta setelah mengikuti pelatihan.

Pertama, luruskan niat menjadi GPAI. Menjadi guru Pendidikan Agama Islam tidak semata-mata berorientasi pada aspek finansial, tetapi juga merupakan bentuk pengabdian untuk membimbing, mendidik, dan membangun karakter generasi muda.

Kedua, Bimtek bukanlah akhir dari proses. Pelatihan justru menjadi awal perjalanan untuk mengamalkan ilmu. Pengetahuan yang diperoleh harus diterjemahkan menjadi praktik pembelajaran yang nyata, konsisten, dan berkelanjutan.

Ketiga, GPAI merupakan ujung tombak dalam mencerdaskan peserta didik di sekolah. Peran guru agama sangat strategis dalam menumbuhkan kemampuan membaca Al-Qur’an, membangun akhlak mulia, serta memperkuat keimanan dan ketakwaan.

Keempat, jadilah guru yang dirindukan. Guru tidak cukup hanya hadir untuk mengajar, tetapi juga harus mampu menghadirkan keteladanan, ketulusan, suasana belajar yang menyenangkan, dan hubungan yang positif dengan peserta didik.

Kelima, terus bangun kolaborasi. Upaya membumikan Al-Qur’an membutuhkan kebersamaan, saling mendukung, berbagi pengalaman, dan bekerja sama untuk menghasilkan dampak yang lebih luas.

Pesan-pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan Bimtek tidak hanya diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi juga dari perubahan nyata dalam praktik pembelajaran dan kehidupan peserta didik.

TBQ-Ku Istimewa: Belajar Mengajar untuk Terus Bertumbuh



Pada kesempatan yang sama, H. Dudi Taufikurohman, M.Pd., Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam (Kasi PAI), menyampaikan penegasan mengenai orientasi utama pelatihan TBQ-Ku Istimewa.

Menurutnya, pelatihan ini merupakan pelatihan untuk mengajar atau learning to teach. Artinya, peserta tidak berhenti pada pemahaman materi, tetapi perlu mengembangkan kemampuan menyampaikan, membimbing, dan mendampingi peserta didik agar mampu mempelajari Al-Qur’an dengan baik.

Ia juga mendorong para peserta untuk terus berinovasi dan menjaga keberlanjutan program setelah pelatihan berakhir.

Semangat inovasi menjadi penting agar pembelajaran Al-Qur’an dapat menyesuaikan kebutuhan peserta didik, lebih menarik, dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna. Sementara itu, keberlanjutan menjadi kunci agar hasil pelatihan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi berkembang menjadi budaya pembelajaran di sekolah.

Dalam kesempatan tersebut, H. Dudi Taufikurohman, M.Pd., secara resmi menutup rangkaian Bimtek TBQ-Ku Istimewa Zona 1, Zona 2, dan Zona 3.

Penutupan Bukan Akhir, Melainkan Awal Pengabdian

Penutupan Bimtek TBQ-Ku Istimewa di Tajug Gede menyisakan pesan yang kuat bagi seluruh peserta: ilmu yang diperoleh harus menemukan jalannya menuju pengabdian.

Setiap guru memiliki ruang untuk menghadirkan perubahan, dimulai dari kelasnya sendiri. Dari kemampuan membaca Al-Qur’an yang semakin baik, tumbuhnya kecintaan terhadap kitab suci, hingga terbentuknya karakter peserta didik yang berakhlak mulia.

Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa semangat selama pelatihan tetap hidup dalam praktik sehari-hari. Diperlukan komitmen, kreativitas, evaluasi, dan kolaborasi agar pembelajaran Al-Qur’an terus berkembang serta menjangkau lebih banyak peserta didik.

TBQ-Ku Istimewa telah menuntaskan rangkaian pelatihannya. Kini, saatnya para GPAI melanjutkan perjuangan: mengamalkan ilmu, membumikan Al-Qur’an, dan menjadi guru yang dirindukan.

PENA GPAI — Mengabarkan Dedikasi, Menguatkan Inspirasi, Membumikan Al-Qur’an.



MENGGUGAH JIWA, MENYELAMI MUKJIZAT AL-QURAN: SESI MOTIVASI TBQ-KU ISTIMEWA MENGGETARKAN TAJUG GEDE

Local poto 2026 by doc.


PENA GPAI | REPORTASE BERITA

PURWAKARTA — Gema kecintaan terhadap Kalam Ilahi kembali menggema dalam kegiatan Pelatihan TBQ-Ku Istimewa yang berlangsung di Tajug Gede, Purwakarta, Kamis, 29 Oktober 2026. Dalam suasana penuh khidmat dan semangat menuntut ilmu, sesi motivasi peserta menjadi momentum istimewa untuk menyalakan kembali api kecintaan terhadap Al-Qur’an.

Bukan sekadar pelatihan, kegiatan ini menjadi perjalanan spiritual untuk menyelami keagungan wahyu, menyingkap tabir mukjizat Al-Qur’an, sekaligus memahami jejak sejarah turunnya ayat-ayat suci melalui kajian Asbabun Nuzul.

Mukjizat Al-Qur’an: Cahaya yang Tak Pernah Padam

Sesi motivasi disampaikan oleh KH. Deden Anwar Fauzi, M.Pd., Ketua DKM Masjid Baing Yusuf Purwakarta. Dengan mengangkat tema mukjizat Al-Qur’an dan Asbabun Nuzul, materi ini mengajak peserta untuk tidak berhenti pada kemampuan membaca, tetapi melangkah lebih jauh menuju pemahaman, penghayatan, dan pengamalan kandungan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Mukjizat Al-Qur’an menjadi pengingat bahwa kitab suci ini bukan sekadar rangkaian huruf yang dilantunkan, melainkan petunjuk kehidupan yang menuntun manusia keluar dari gelapnya kebodohan menuju cahaya ilmu dan kebijaksanaan.

Sementara itu, pemahaman tentang Asbabun Nuzul membuka cakrawala peserta untuk menelusuri latar belakang turunnya ayat, memahami konteksnya, serta menangkap pesan dan hikmah yang terkandung di dalamnya.

Menghidupkan Al-Qur’an, Menguatkan Pengabdian

Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, penguatan literasi Al-Qur’an menjadi kebutuhan mendasar. Para peserta didorong untuk menjadikan kegiatan TBQ-Ku Istimewa sebagai titik tolak membangun kompetensi, memperkokoh spiritualitas, dan memperluas manfaat Al-Qur’an bagi masyarakat.

Pesan yang mengemuka dalam sesi ini begitu kuat: Al-Qur’an tidak cukup hanya dibaca dengan lisan, tetapi harus diresapi dengan hati, dipahami dengan akal, dan diwujudkan melalui tindakan nyata.

Dari Tajug Gede, semangat itu diharapkan terus menyala, melahirkan insan-insan pembelajar yang tidak hanya fasih melantunkan ayat-ayat suci, tetapi juga mampu menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan pribadi, pendidikan, dan pengabdian sosial.

TBQ-Ku Istimewa: Menumbuhkan Generasi Qur’ani

Pelatihan TBQ-Ku Istimewa menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam memperkuat tradisi belajar Al-Qur’an. Melalui perpaduan ilmu, motivasi, dan penguatan nilai spiritual, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan semangat belajar sepanjang hayat serta mempererat kecintaan terhadap Kalamullah.

Sebab, ketika Al-Qur’an menjadi cahaya dalam hati, ilmu menjadi jalan pengabdian, dan amal menjadi bukti kecintaan, di sanalah perjalanan menuju pribadi Qur’ani menemukan maknanya.

Dari Tajug Gede, pesan itu bergema: dekat dengan Al-Qur’an, kuat dalam keyakinan, dan nyata dalam pengamalan.

Pena GPAI — Mengabarkan Inspirasi, Menguatkan Literasi, Menyemai Generasi Qur’ani.

Thursday, October 15, 2026

GEMAKAN AKSELERASI GENERASI QUR’ANI!

local photo 2026 by.doc


POKJAWAS PAI KEMENAG PURWAKARTA GELAR BIMTEK TBQ-KU ISTIMEWA, TIGA SESI MENUJU GURU PAI BERKUALITAS

PURWAKARTA — Dari masjid, ikhtiar mencerdaskan generasi Qur’ani kembali digaungkan. Bukan sekadar pelatihan, bukan pula hanya agenda peningkatan kompetensi, tetapi sebuah langkah strategis untuk melahirkan pembelajaran baca Al-Qur’an yang lebih terstandar, efektif, dan komprehensif bagi generasi penerus bangsa.

Kelompok Kerja Pengawas Pendidikan Agama Islam (Pokjawas PAI) Kementerian Agama Kabupaten Purwakarta menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) TBQ-Ku Istimewa bagi Guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Kegiatan ini dirancang dalam tiga sesi pelatihan yang tersebar di sejumlah masjid dan pusat kegiatan keagamaan di Kabupaten Purwakarta, sepanjang Oktober 2026.

Sesi pertama berlangsung pada 14–15 Oktober 2026 di Masjid Agung Baing Yusuf Purwakarta, sekaligus menjadi momentum pembukaan resmi rangkaian kegiatan. Pembukaan ini menandai dimulainya ikhtiar bersama untuk memperkuat kapasitas guru PAI dalam pembelajaran baca Al-Qur’an yang bermutu.

Kehadiran sejumlah tokoh penting menambah bobot dan makna kegiatan tersebut. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta, Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Wilayah IV, serta Ketua BAZNAS Kabupaten Purwakarta turut menghadiri pembukaan, menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas lembaga dalam memperkuat pendidikan dan pembinaan keagamaan.

Secara resmi, kegiatan dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purwakarta. Momentum ini menjadi penegasan bahwa peningkatan kompetensi guru PAI merupakan bagian penting dari upaya membangun kualitas pendidikan agama yang berdampak nyata bagi peserta didik.

Tiga Sesi, Satu Misi Besar

Rangkaian Bimtek TBQ-Ku Istimewa disusun dalam tiga sesi pelaksanaan. Setiap sesi menjadi bagian dari gerakan bersama untuk memperkuat kompetensi guru PAI dalam membimbing peserta didik membaca Al-Qur’an secara lebih baik.

- Sesi I | 14–15 Oktober 2026

  Masjid Agung Baing Yusuf Purwakarta — sekaligus pembukaan kegiatan.

- Sesi II | 20–21 Oktober 2026

  Masjid Endan Andansih.

- Sesi III | 28–29 Oktober 2026

  Tajug Gede.

Pelaksanaan bertahap ini menjadi ruang penguatan kompetensi, penyamaan persepsi, serta pengembangan praktik pembelajaran baca Al-Qur’an yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Menguatkan Guru, Menyiapkan Generasi Qur’ani

Di balik setiap huruf Al-Qur’an yang dilafalkan dengan benar, ada proses pembelajaran, kesabaran seorang guru, dan ikhtiar panjang dalam membimbing peserta didik. Karena itu, standardisasi metode pembelajaran bukan sekadar persoalan teknis, melainkan bagian dari tanggung jawab pendidikan untuk memastikan setiap anak memperoleh bimbingan yang tepat.

Bimtek TBQ-Ku Istimewa diharapkan menjadi salah satu pengungkit peningkatan kualitas pembelajaran baca Al-Qur’an di sekolah. Guru PAI tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga mampu menerapkan metode yang efektif, terukur, dan sesuai kebutuhan peserta didik.

Gerakan ini sekaligus menegaskan bahwa membangun generasi Qur’ani membutuhkan sinergi. Pengawas, guru, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan unsur masyarakat perlu berjalan beriringan demi menghadirkan pendidikan agama yang semakin berkualitas.

Sebab, ketika guru diperkuat, pembelajaran ditingkatkan, dan metode distandardisasi, harapan untuk melahirkan generasi yang dekat dengan Al-Qur’an semakin nyata.

Bimtek TBQ-Ku Istimewa bukan sekadar kegiatan dua hari dalam setiap sesi. Ia adalah bagian dari ikhtiar panjang untuk menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, memperkuat kompetensi pendidik, dan menyiapkan masa depan generasi Qur’ani dari Purwakarta.

TBQ-Ku Istimewa: Akselerasi Generasi Qur’ani melalui Standardisasi Metode Pembelajaran Baca Al-Qur’an yang Efektif dan Komprehensif.

Dari kompetensi guru, tumbuh kualitas pembelajaran. Dari pembelajaran yang bermutu, lahir generasi Qur’ani yang membanggakan.

Tuesday, March 3, 2026

Live dari SMPN 7 Purwakarta, Kadisdik Sadiyah Buka Masantren di Sakola

Local photo 2026 by doc, momen pembukaan masantren di sakola 


Purwakarta, 3 Maret 2026 — Kegiatan Masantren di Sakola resmi dibuka melalui siaran langsung dari SMPN 7 Purwakarta, Selasa (3/3). Pembukaan dilakukan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sadiyah, M.Pd, yang sekaligus menyampaikan sambutan dan arahan kepada seluruh peserta didik, pendidik, serta orang tua.

Dalam sambutannya, Kadisdik menegaskan bahwa Masantren di Sakola bukan sekadar agenda rutin Ramadan, melainkan ikhtiar bersama untuk meningkatkan kualitas pembinaan karakter dan spiritual peserta didik. Menurutnya, penguatan nilai religius perlu berjalan seiring dengan pembentukan sikap disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.

Beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga kondusivitas selama pelaksanaan kegiatan agar tidak menodai kekhusyukan ibadah puasa di bulan suci Ramadan. Seluruh unsur sekolah diminta memastikan suasana belajar dan beribadah berlangsung tertib, aman, serta penuh keteladanan.

Selain itu, Kadisdik menekankan sinergi antara sekolah dan keluarga. Guru dan orang tua diharapkan bersama-sama memonitoring aktivitas siswa dan siswi, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah, agar tujuan pendidikan Ramadan tercapai secara optimal.

Tak kalah penting, Masantren di Sakola juga diarahkan sebagai ruang penggalian minat dan bakat peserta didik. Melalui berbagai aktivitas edukatif dan keagamaan, siswa diharapkan dapat mengenali potensi diri, menumbuhkan kreativitas, serta membangun kepercayaan diri.

Kegiatan ini disambut antusias oleh warga sekolah dan masyarakat. Dengan dukungan semua pihak, Masantren di Sakola diharapkan menjadi momentum penguatan karakter pelajar di Kabupaten Purwakarta, khususnya dalam mengisi Ramadan dengan aktivitas yang bermakna dan inspiratif.

Kontributor:  Eep

Wednesday, January 21, 2026

Meluruskan Narasi Sejarah: Tugas Moral Guru PAI

 
local poto 2025 by. ilustrasi

“Sejarah yang kita hafal… belum tentu sejarah yang jujur.”

Ketika seorang ‘pahlawan’ dielu-elukan, siapa yang menangisi para korban yang dilenyapkan dari buku pelajaran?

Narasi sejarah tidak pernah benar-benar netral. Ia sering ditulis oleh pihak yang menang, lalu diwariskan sebagai “kebenaran umum”. Vasco da Gama, misalnya, kerap dipoles sebagai pahlawan eksplorasi Eropa—ikon kejayaan bangsa Portugis. Namun, ketika fakta-fakta pelayaran keduanya (1502–1503) dihadirkan secara jujur, kita dihadapkan pada wajah lain dari sejarah: kekerasan terhadap peziarah Muslim, perampokan, pembakaran kapal, dan pembunuhan massal terhadap sekitar 400 jiwa yang tak berdaya. Di titik inilah, tugas guru PAI bukan sekadar mengajar agama, tetapi juga menanamkan kesadaran kritis terhadap sejarah.

Bagi umat Islam, khususnya pendidik PAI, peristiwa ini bukan untuk menumbuhkan kebencian, melainkan membangun kewaspadaan intelektual. Kolonialisme tidak datang hanya dengan senjata, tetapi juga dengan narasi—narasi yang mengagungkan pelaku dan membungkam korban. Ketika kekerasan dilakukan “atas nama iman” dan kemudian ditutup dengan label kepahlawanan, di situlah terjadi ketidakadilan sejarah. Guru PAI perlu membantu peserta didik memahami bahwa Islam adalah korban dari ekspansi yang dibungkus misi dagang dan agama, sekaligus menegaskan bahwa Islam sendiri tidak mengajarkan pembalasan buta, tetapi keadilan dan kemanusiaan.

Di ruang kelas, guru PAI memiliki posisi strategis untuk mengajarkan tauhid yang membebaskan: membebaskan dari sikap inferior, dari penerimaan mentah narasi Barat, dan dari glorifikasi kekerasan. Sejarah Vasco da Gama dapat dijadikan studi kritis untuk menanamkan nilai keadilan (al-‘adl), kemanusiaan (al-insaniyyah), dan kejujuran ilmiah. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya menjadi saleh secara ritual, tetapi juga cerdas secara sejarah, mampu memilah antara eksplorasi dan agresi, antara dakwah dan dominasi.

Akhirnya, memperkuat pemahaman umat Islam bukan berarti menghidupkan dendam masa lalu, melainkan menegakkan kebenaran sejarah agar generasi hari ini tidak mudah terpesona oleh mitos kepahlawanan yang dibangun di atas darah, api, dan kebencian. Di sinilah peran guru PAI: menjadi penjaga nurani, pengajar iman yang berpihak pada kemanusiaan, dan pendidik yang berani meluruskan sejarah dengan akal sehat dan akhlak mulia.

red. Alfaqir


referensi : https://ihram.republika.co.id/berita/rw8lmv366/saking-bencinya-vasco-de-gama-bakar-kapal-jamaah-haji-di-india-beserta-penumpangnya

Thursday, December 18, 2025

Gema Kata di Panggung Purbasari: Ketika Sebuah Piala Menjadi Kunci Masa Depan

Local photo 2025 by. Eep, momen anugerah

Anugerah Literasi Purbasari 2025 bukan sekadar penghargaan, tetapi kunci yang membuka masa depan literasi yang lebih terang.

–-----------

​[Purwakarta], 18/12/2025 — Lampu sorot utama membelah kegelapan auditorium, menyisakan satu titik fokus yang menyilaukan di tengah panggung. Ribuan pasang mata menahan napas, menciptakan keheningan yang begitu padat, seolah udara di ruangan itu ikut berhenti bergerak. Ini bukan sekadar penganugerahan; ini adalah  pembuktian bagi para penjaga nyala api literasi.
​Di layar raksasa, tertulis megah: Anugerah Literasi Purbasari 2025.
​Musik perlahan naik, membangun ketegangan yang merambat dari lantai hingga ke dada setiap hadirin. Saat acara dibuka, waktu terasa melambat. Detik-detik yang merentang panjang itu akhirnya pecah oleh gema sebuah nama—sebuah pengakuan atas dedikasi tanpa lelah.
​Saat penerima penghargaan melangkah naik, riuh tepuk tangan bukan sekadar suara; itu adalah ombak apresiasi yang menghantam pantai keraguan yang mungkin pernah ada. Namun, momen paling magis terjadi saat piala itu diangkat tinggi ke udara.
​Lebih dari Sekadar Logam Mulia
​Di bawah kilatan blitz kamera yang bertubi-tubi, piala Anugerah Literasi Purbasari itu berkilau bukan hanya karena sepuhan emasnya, melainkan karena beban makna yang diembannya. Bagi sang penerima, benda itu bertransformasi secara imajiner di genggamannya. Ia bukan lagi sekadar trofi, melainkan sebuah kunci emas.
Pengakuan ini bukan sebagai garis finis, melainkan garis start yang baru.
​"Semoga pengakuan ini... menjadi kunci yang membuka masa depan," bisik harapan yang tersirat dari sorot mata sang pemenang.

​Membuka Gerbang Peluang Tak Terbatas
​Di balik panggung yang gemerlap, makna sesungguhnya mulai terajut. Anugerah ini adalah kunci yang kini telah dimasukkan ke dalam lubang pintu masa depan. Pintu itu menyembunyikan lorong-lorong panjang yang dipenuhi dengan:
• ​Kesuksesan yang Berkelanjutan: Bukan sukses instan, melainkan pencapaian yang tumbuh seiring dengan setiap buku yang dibaca dan setiap kata yang dituliskan oleh anak-anak bangsa.
• ​Kontribusi yang Bermakna: Sebuah janji bahwa literasi tidak akan berhenti di ruang seminar, tetapi turun ke jalan, ke desa-desa, dan menyentuh jiwa-jiwa yang haus akan pengetahuan.
• ​Peluang Tanpa Batas: Terbukanya kolaborasi global, inovasi digital, dan metode baru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
​Malam itu ditutup bukan dengan pidato yang berapi-api, melainkan dengan sebuah janji sunyi yang bergema kuat. Bahwa mulai besok, dengan "kunci" di tangan, sang penerima akan membuka lebih banyak pintu bagi mereka yang selama ini terkunci dalam ketidaktahuan.
​Lampu panggung boleh saja padam, tetapi di Anugerah Literasi Purbasari 2025, cahaya masa depan baru saja dinyalakan dengan terang benderang.

Kontributor:  eep

Friday, November 21, 2025

Pertandingan Tenis Meriahkan Peringatan HAB Kemenag Purwakarta

Local photo 2025 by. Eep, momen pertandingan 

Purwakarta (21/11/2025) — Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama berlangsung meriah dengan digelarnya pertandingan tenis yang bertempat di Pusat Layanan Haji dan Umrah Terpadu (PLHUT) Purwakarta, Jumat 21 Nopember 2025. Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian HAB yang bertujuan mempererat silaturahmi serta meningkatkan sportivitas antar insan Kemenag.

Pertandingan tenis ini terasa semakin spesial dengan kehadiran langsung Plt. Kepala Kantor Kementerian Haji Kabupaten Purwakarta, H. Syamsi, M.Si. Dalam sesi wawancara, beliau menyampaikan bahwa HAB bukan hanya momentum untuk refleksi pengabdian, tetapi juga wadah memperkuat kekompakan keluarga besar Kemenag.

> “Olahraga adalah media perekat. Melalui pertandingan ini, kita berharap semangat kebersamaan dan kolaborasi antar pegawai semakin kuat,” ujar H. Syamsi saat kontributor wawancara.

Pertandingan berlangsung kompetitif namun tetap menjunjung sportivitas. Para peserta, baik dari unit kerja Kemenag maupun madrasah, menunjukkan antusiasme tinggi. Sorak dukungan dari para penonton menambah suasana semakin hidup.

Selain menjadi ajang hiburan sehat, kegiatan ini juga menjadi bentuk nyata komitmen Kemenag dalam mendorong gaya hidup aktif serta menjaga kesehatan para pegawainya.

Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan penyerahan apresiasi simbolis dari panitia kepada peserta. Peringatan HAB kali ini diharapkan menjadi inspirasi untuk terus memperkuat pelayanan, pengabdian, dan keharmonisan dalam lingkungan Kementerian Agama.

Kontributor. Eep